Profil dan Sejarah

Dalam rangka mengembangkan keilmuan bidang urologi di Indonesia, beberapa orang staf sub-bagian urologi FKUI/ RSCM dikirim ke luar negeri untuk memperdalam urologi.       dr. H Ramli, dr. Prohoeman, dan dr. Soemarsono menempuh pelatihan urologi di Amerika setelah sebelumnya menjalani pelatihan urologi di FKUI di bawah bimbingan Prof. Oetama. dr. H. Ramli selanjutnya menjadi staf sub-bagian urologi FKUI/ RSCM sedangkan dr. Prohoeman hijrah ke Malaysia, dan mengembangkan urologi di Malaysia. Setelah menyelesaikan program pendidikan urologi di Amerika, dr. Soemarsono kemudian melanjutkan pelatihan di Belanda. Prof. Sadatoen Soerjohardjo menempuh pelatihan urologi di proyek kapal Hope dan melanjutkan pendidikan urologinya di Belanda. Setelah menyelesaikan pendidikan urologinya di Belanda, Beliau menjadi staf sub-bagian urologi FKUI/ RSCM.

cipto1

Gambar 1. Central Burgerlijke Ziekeninrichting. Saat ini dikenal sebagai RSCM

cipto2

            Gambar 2. Prof. Sutan Asin

cipto3

   Gambar 3. Prof. Margono Sukarjo

Pada tahun 1960, Prof. Oetama mendirikan sub-bagian urologi di FKUI/ RSCM. Prof. Oetama kemudian dikukuhkan sebagai guru besar di FKUI pada tahun 1965. Beliau aktif memberikan pelatihan kepada para ahli bedah yang tertarik dan memiliki minat dalam bidang urologi di seluruh Indonesia. Staf sub-bagian urologi FKUI/ RSCM yang pertama terdiri dari dr. H. Ramli, dr. Proehoeman, Prof. Sadatoen Soerjohardjo, dan dr. Soemarsono Sastrowardojo.

Prof. Djoko Rahardjo menyelesaikan pendidikan ahli bedahnya di FKUI pada tahun 1969, dibawah bimbingan Prof. Oetama, Prof. Djamaluddin dan dr. Irawan Santoso. Prof. Djoko Rahardjo pada awalnya mendalami sub bagian bedah toraks di bawah bimbingan dr. Irawan Santoso, yang dikenal memiliki keahlian bedah yang sangat terampil, sebelum akhirnya diminta Prof. Oetama untuk mendalami bidang urologi. Prof. Djoko Rahardjo mendapatkan pelatihan urologi selama 1 tahun dibawah bimbingan Prof. Oetama, selanjutnya Beliau dikirim untuk melanjutkan pendidikan urologi di FU, Berlin, Jerman Barat pada tahun 1970 hingga tahun 1972. Beliau menempuh pelatihan urologi di RS. Westend dan RS. Neukӧllner Kraukenkees, Berlin. Beliau selanjutnya aktif menjadi staf sub-bagian urologi FKUI/ RSCM.

Fritz Kakiailatu, yang merupakan seorang dokter di Angkatan Laut, dikirim oleh Angkatan Laut untuk memperdalam bidang urologi di AZL, Belanda. Beliau mengamalkan ilmu urologinya di RSPAD, dan RSAL, Jakarta. dr. Rochani, dr. Ali Afandi, dan dr. Firdaoessaleh menjalani pelatihan urologi di AZL, Belanda dibawah bimbingan Prof. Udoyonas setelah sebelumnya menjalani pelatihan urologi di FKUI. dr. Rochani dan dr. Firdaoessaleh menjadi staf sub-bagian urologi di FKUI/ RSCM.

Prof. Oetama memberikan program pelatihan urologi selama 6 bulan kepada semua dokter yang menjalani program pendidikan ahli bedah di FKUI/ RSCM. Pelatihan ini merupakan cara Prof. Oetama untuk meningkatkan keahlian para ahli bedah dalam penanganan kasus urologi. Beberapa ahli bedah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia untuk menjamin penyebaran tenaga ahli bedah sehingga dapat meningkatkan pemerataan tenaga ahli bedah di tanah air. Beberapa ahli bedah tersebut antara lain Prof. Heyder bin Heyder, yang kemudian menjadi perintis bidang ilmu bedah di Semarang, Prof. Kustedjo yang kemudian menjadi perintis ilmu bedah di Bandung, dr. M. Sinaga yang kemudian menjadi Menteri kesehatan saat itu, Prof. Ramlan Mochtar yang kemudian mengembangkan ilmu bedah di Yogyakarta, dan dr. Bendjohan yang mengembangkan ilmu bedah di Malang.

Seiring dengan perkembangan bidang urologi di Jakarta, beberapa ahli bedah di Surabaya yang memiliki minat terhadap urologi menjalani pelatihan urologi di luar negeri. Pada era tahun enam puluhan dr. Ni Siok Po atau dr. Zaini mendalami urologi di Amerika Serikat. Selanjutnya, untuk mengembangkan ilmu bedah dan ilmu urologi pada khususnya, pada tahun 1973-1976 dua dokter bedah dari Surabaya dikirim keluar negeri untuk memperdalam urologi. Dua tokoh tersebut yaitu Prof. Widjoseno Gardjito di Groningen Universite (1974-1976) dan dr. Thalib Bobsaid di AZL Ledien – Belanda. Sebelumnya, Prof. Widjoseno Gardjito sempat mengikuti pendidikan urologi di FKUI pada tahun 1969-1970 di bawah bimbingan Prof. Oetama. Setelah tahun 1976, beberapa dokter dari Surabaya kembali dikirim untuk mendalami urologi ke Belanda. Prof. Sunaryo Hardjowijoto dikirim ke Groningen Univesity, dan mendalami urologi anak di Neyhemen, Belanda. Prof. Doddy M. Soebadi menjalani pelatihan urologi di Groningen University sedangkan dr. Adi Santoso menempuh pelatihan urologi di Vrije Universiteit Amsterdam.

Prof. Sahala Sihombing menyelesaikan program ahli bedahnya di FKUI. Beliau menjalani pelatihan urologi di Melbourne, Australia. Setelah menyelesaikan pelatihan urologi di Australia, Prof. Sahala Sihombing merintis pengembangan sub bagian urologi di Universitas Padjajaran, Bandung. dr. Ali Imran, dikirim ke luar negeri untuk menempuh pendidikan urologi di Amerika. Beliau mengamalkan ilmu urologinya di RS. Gatot Subroto dan RS. Pusat Pertamina, Jakarta.

Rudi Juwana, dari Semarang, menjalani pelatihan urologi di Academisch Ziekenhuis Rijkuniversiteit, Groningen, Belanda. Beliau menyelesaikan pelatihan urologinya pada tahun 1979, dan mengembangkan bidang urologi di wilayah Semarang.

Perkembangan urologi di Indonesia tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan beberapa Professor asing antara lain Prof. Donker, Prof. Boer, Prof. Mensink, dan Prof. Udoyonas. Pada tahun 1974, pada saat cuti besar akhir jabatannya, Beliau menetap di Indonesia selama satu tahun, dan menjadi Professor tamu di Jakarta dan Surabaya. Beliau berjasa membantu pengembangan ilmu urologi di Indonesia salah satunya dengan turut mendukung dibukanya program studi urologi di Jakarta dan Surabaya. Prof. Boer, seorang Professor berkebangsaan menjadi Professor tamu di Jakarta dan Surabaya. Prof. Boer mendidik beberapa ahli urologi dari Indonesia antara lain Prof. Widjoseno Gardjito, Prof. Sunaryo Hardjowijoto, Prof. Doddy M. Soebadi, dan   dr. Rudi Juwana. Prof. Mensink melanjutkan tugas Prof. Boer menjadi Professor tamu di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Prof. Udoyonas, seorang Professor berkebangsaan Jerman, menjadi Professor tamu dan turut mendidik para ahli urologi di Indonesia selama menjadi ketua di Leiden. Selanjutnya Beliau pindah ke MAC (Medicine Auchhantoher), dan mendidik gelar PhD beberapa ahli urologi dari Indonesia yaitu Prof. Akmal Taher , dr. Ponco Birowo, dan dr. Harrina E. Rahardjo.

Sebelum era tahun 1980-an, eksistensi ahli urologi masih kurang dikenal di masyarakat. Bidang urologi pada masa itu masih belum berkembang baik. Beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini antara lain jumlah ahli urologi yang masih sedikit, beberapa ahli urologi yang ada saat itu masih sering melakukan operasi di luar bidang urologi dan beberapa operasi di bidang urologi masih dikerjakan oleh para ahli bedah.

Pada era tahun 80-an, bidang urologi mengalami kemajuan yang sangat pesat di dunia dimana terjadinya perubahan tren penanganan kasus urologi menggunakan teknik endoskopi. Teknik-teknik yang minimal invasif atau non invasif sama sekali semakin berkembang dalam bidang urologi menggantikan teknik pembedahan terbuka dengan morbiditas yang lebih tinggi. Hal ini didukung oleh penemuan beberapa alat baru untuk penanganan batu ginjal dan saluran kemih yaitu URS (Perez Castro, 1981), PCNL (Pieter Alken, 1981) dan ESWL (CH. Chaussy, 1980-1983).

Perkembangan urologi di dunia juga diikuti oleh perkembangan urologi di Indonesia. Diikuti oleh Jakarta, URS pertama kali dilakukan di rumah sakit Setia Mitra pada tahun 1985, dan PCNL pertama kali dilakukan di Rumah Sakit Islam, Husada, dan Sumber Waras. Di RSCM peralatan mutakhir untuk penyakit batu baru didapatkan pada akhir 1997. Dengan adanya peralatan ESWL, PCNL, dan ureteroscopy, maka di RSCM operasi terbuka untuk batu hanya dilakukan untuk batu staghorn dengan volume batu yang besar.

Pada penyakit pembesaran prostat jinak (PPJ), selain kemajuan di bidang pengobatan medikamentosa, pemeriksaan penunjang menjadi lebih lengkap dengan ditemukannya Transrectal Ultrasonography yang dapat mengukur volume prostat dengan lebih tepat dan dapat mengidentifikasi struktur prostat. Terapi operatif prostat juga mengalami kemajuan. Saat ini, Trans Urethral Resection of Prostate (TURP) adalah cara operasi terpilih untuk penangangan pembesaran prostat jinak.

Di RSCM, TUR prostat mulai diperkenalkan pada tahun 1950-an oleh Prof. Oetama setelah menyelesaikan pendidikan urologinya di Amerika. TURP jauh lebih banyak dilakukan daripada operasi terbuka. Operasi terbuka hanya dilakukan untuk prostat dengan volume lebih dari 100 cc dan sekaligus untuk maksud pendidikan. Di Surabaya, pada tahun 1978, Transurethral Resection of the Prostate (TURP) mulai diperkenalkan.

Akhir-akhir ini berkembang pula cara-cara operasi prostat alternatif seperti menggunakan elektro evaporasi, elektro rotor, laser Holmium-YAG, Green Laser (KTV), Talium laser, Trans Urethral Needle Ablation (TUNA) atau pengobatan sementara dengan memasang stent, atau dilatasi menggunakan balon. Cara ini mengilhami pelebaran arteria koronaria yang menyempit dengan analogi yang sama. Selain itu pengobatan dengan pemanasan pada Pembesaran Prostat Jinak dengan Hyperthermia sampai 45°C atau Thermotherapy sampai 60°C memberi hasil yang cukup baik pada prostat dengan volume besar. Pengobatan menggunakan laser untuk batu (holyum) atau untuk prostat di Indonesia dipelopori oleh Prof. Djoko Rahardjo yang pertama kali dilakukan di RS Sumber Waras pada tahun 1985.

Dalam perkembangan transplantasi organ tubuh, urologi juga menjadi pelopor yaitu dalam pencangkokan ginjal. Pada saat ini cangkok ginjal merupakan cara terpilih untuk penanganan gagal ginjal stadium akhir. Perbaikan teknik operasi, terapi imunosupresif dan organisasi yang baik telah memperbaiki angka graft suvival yang pada saat ini mencapai lebih dari 85% pada tahun pertama, 60-70% pada lima tahun pertama, dan sekitar 40-50% pada sepuluh tahun pasca transplantasi.

Di Indonesia, usaha cangkok ginjal pertama telah dimulai di FKUI/ RSCM pada tahun 1977, yang dirintis bersama-sama dengan sub-bagian Ginjal dan Hipertensi yang pada saat itu dipimpin oleh Prof. dr. R. P. Sidabutar. Tokoh-tokoh pencangkokan ginjal pertama kali di Indonesia yaitu dr. Irawan Santoso, Prof. Djoko Rahardjo, dr. David Manuputty, dr. Rochani, dan Prof. dr. R. P. Sidabutar serta dibantu oleh Prof. Kazuo Ota, seorang Professor berkebangsaan Jepang dari Tokyo. Sebelumnya pada tahun 1975, dr. Cipto Soemartono, dr. Titus, yang merupakan seorang dokter hewan, dan Prof. Djamaluddin melakukan percobaan transplantasi pada anjing dan kambing. Transplantasi ginjal pada saat itu dikerjakan oleh ahli urologi dan bedah vaskular. Transplantasi ginjal selanjutnya lebih rutin dilakukan di RS Cikini yang dipelopori oleh dr. David Manuputty. Sejak saat itu, cangkok ginjal sepenuhnya dilakukan oleh ahli urologi.

Di Indonesia, sebagian besar transplantasi ginjal masih dilakukan dengan donor hidup dari saudara atau keluarga dekat (related living donor). Hal tersebut yang menjadi kendala dalam perkembangan program cangkok ginjal di Indonesia disamping biaya yang tinggi. Pada saat ini program cangkok ginjal di Indonesia telah dapat dilakukan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.

Perubahan tren pembedahan dari operasi terbuka menjadi teknik minimal invasif dalam lingkup bedah mendorong penggunaan teknik laparoskopik pada kasus-kasus bedah. Morbiditas teknik laparoskopi lebih kecil dibandingkan operasi terbuka yang biasa dilakukan. Teknik laparoskopi pertama kali dikerjakan oleh Prof. Sunaryo Hardjowijoto pada tahun 1992 di Surabaya. Pada saat itu, Beliau melakukan operasi varikokelektomi dengan teknik laparoskopi. Di RSCM, teknik laparoskopi pertama kali dikerjakan oleh Prof. Rainy Umbas pada tahun 1994. Beliau saat itu mengerjakan teknik laparoskopi pada kasus diagnostik UDT intra abdominal.

Pada September 2005, diselenggarakan acara “1st National Workshop on Laparoscopy Urology”. Pada acara tersebut diundang dr. Phikar Laguna dari AMC, Amsterdam. Pada workoshop itu dilakukan operasi laparoscopy simple nephrectomy dan unroofing kidney cyst. Acara tersebut membangkitkan kembali minat para ahli urologi di Indonesia untuk mengembangkan teknik laparoskopi setelah sempat vakum untuk beberapa waktu.

DI RSCM, dr. Chaidir A. Mochtar, salah seorang staf departemen urologi RSCM, dikirim ke Belanda untuk menjalani program PhD sekaligus menjalani pelatihan teknik laparoskopi pada tahun 2002. Setelah menyelesaikan pelatihannya di Belanda pada tahun 2006, Beliau mulai menerapkan teknik laparoskopik pada beberapa operasi di RSCM. Diprakarsai oleh dr. Chaidir A. Mochtar, pada 8 November 2011, teknik laparoscopy donor nephrectomy pada trasplantasi ginjal dilakukan di Indonesia untuk pertama kalinya. Untuk mempercepat pengembangan teknik laparoskopi di RSCM, pada tahun 2013, dr. Irfan Wahyudi, staf departemen urologi RSCM, dikirim untuk mendalami teknik laparoskopi di Jerman.

Kasus-kasus dengan azoospermia yang disebabkan oleh agenesis duktus deferens bilateral atau sumbatan, yang dahulu dianggap kelainan yang tidak dapat diatasi, saat ini dapat ditangani dengan kemajuan teknik bedah mikro. Di RSCM, teknik ini mulai berkembang sejak tahun 1985 dipelopori oleh Prof. Akmal Taher. Dengan melakukan operasi vasovasoctomi atau epididymo vasostomi dapat memberikan hasil patency rate yang cukup tinggi. Pada tahun 1985, bedah mikrourologi di Surabaya juga berkembang dan operasi vasovasoctomi yang sebelumnya tidak bisa dilakukan akhirnya bisa dikerjakan di Surabaya. Teknik bedah mikrourologi di Surabaya dipelopori oleh Prof. Doddy M. Soebadi.

Selain itu, dengan teknik MESA (Micro Epididymal Sperm Aspiration) atau TESE (Testicular Sperm Extraction), dimungkinkan untuk mendapatkan sperma yang dapat disuntikkan ke dalam sel telur dengan teknik ICSI (Intra Cellular Sperm Injection) sehingga dapat dilakukan in vitro fertilization. Akhir-akhir ini, teknik penanganan fertilisasi secara in vitro mulai dikenal di Surabaya.

Kemajuan urologi di bidang onkologi juga sangat pesat. Di samping kemajuan diagnostik, terdapat kemajuan pada teknik pembedahan seperti radikal prostatektomi, radikal sistektomi, dan radikal nefrektomi. Pada bidang pengobatan adjuvant terutama untuk tumor testis dari jenis germinal baik seminoma maupun non seminoma, kombinasi Bleomycin Etoposide dan CisPlatin (BEP) dapat memberikan response rate di atas 90% dan dapat memberikan cure rate sampai 97%.

Pada bidang kontrasepsi pria, ditemukan teknik vasektomi tanpa pisau dan teknik vas oklusi. Dengan menyuntikkan zat Styrene Malic Anhydrase (SMA) ke dalam lumen vas deferens, maka SMA yang bersifat basa tersebut dapat menghambat sperma yang bersifat asam. Prof. Doddy M. Soebadi melakukan penelitian mengenai hal ini, dan menjadi disertasi doktor Beliau.

Perkembangan teknik kontrasepsi ini disponsori oleh BKKBN dengan cara mengirim beberapa ahli urologi senior untuk menjalani pelatihan di Bangkok di bawah bimbingan     dr. Apichart pada tahun 1985. Ahli urologi yang dikirim pada saat itu yaitu Prof. Widjoseno Gardjito, Prof. Djoko Rahardjo, dan dr. Rudi Juwana. Setelah itu, BKKBN berkerja sama dengan Persatuan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI). Prof. Djoko Rahardjo menjadi salah satu tokoh pendiri PKMI. Beliau menjabat menjadi ketua PKMI selama 2 periode dan mendapatkan grand dari USAID. PKMI rutin mengadakan kursus dan memberikan sertifikasi kemahiran kontrasepsi mantap kepada ahli bedah, dan dokter umum.

Penelitian mengenai fisiologi ereksi, yang banyak dilakukan oleh para spesialis urologi, telah dapat menghasilkan cara pengobatan non bedah. Prostaglandin E1 merupakan zat vaso aktif yang dapat menimbulkan ereksi bila disuntikkan intra kavernosa, sedangkan sildenafil suatu penghambat fosfodiesterase V adalah obat yang dapat dipakai per oral dan dapat menyebabkan relaksasi otot polos pada korpus kavernosum, sehingga terjadi ereksi. Prof. Akmal Taher, salah seorang staf departemen Urologi FKUI telah ikut mengembangkan penelitian awal mengenai hal ini dan mencapai gelar doktor dengan predikat Cumlaude. Selain itu Prof. Akmal Taher menjadi salah satu pemegang paten untuk salah satu zat vasoaktif penghambat fosfodiesterase IV.